Nyalakan Cahayamu

Posted by: enggar.arini10 in Uncategorized No Comments »

Lebih dari tiga dasawarsa yang lalu, aku masih seorang murid kelas 1 di sebuah SMU besar di California selatan. Sekolah yang jumlah siswanya sebanyak 3.200 orang ini adalah tempat berbaurnya segala macam orang yang berbeda etnis. Lingkungannya keras. Pisau, pipa, rantai, penjotos dari besi, dan kadang-kadang senapan angin, sudah biasa. Perkelahian dan kegiatan geng menjadi peristiwa mingguan. Setelah pertandingan rugby pada musim gugur 1959, aku meninggalkan tempat duduk bersama pacarku. Saat kami berjalan ditrotoar yang ramai, seseorang menendangku dari belakang. Waktu berbalik, aku berhadapan dengan geng lokal, yang tangannya dilengkapi dengan penjotos dari besi. Pukulan pertama dari serangan yang tak diundang ini segera menghancurkan tulang hidungku, salah satu dari beberapa tulang lain yang akan dipatahkan dalam pukulan selanjutnya. Kepalan datang dari segala penjuru ketika kelima belas anggota geng mengeroyokku. Cederaku semakin parah. Gegar otak. Pendarahan didalam. Akhirnya, aku harus dioperasi. Dokter berkata padaku andai aku terpukul sekali lagi di kepala, mungkin aku sudah mati. Untungnya, mereka tidak melukai pacarku. Setelah aku pulih secara medis, beberapa orang teman menghampiriku dan berkata, “Ayo, kita balas mereka!”. Itulah cara masalah “diselesaikan”. Setelah diserang, menyamakan skor menjadi prioritas. Sebagian diriku berkata, “Ayo!” manisnya balas dendam jelas merupakan pilihan. Tapi bagian lain dari diriku berhenti dan menolak. Balas dendam tak ada gunanya. Dengan jelas, sejarah telah menunjukkan berkali-kali bahwa balas dendam hanya mempercepat dan memperuncing konflik. Kami harus melakukan sesuatu yang berbeda untuk memutuskan rantai peristiwa yang tidak produktif ini. Kami bekerja bersama berbagai macam kelompok etnis, dan kami membentuk, “Komite Persaudaraan” untuk memperbaiki hubungan antarras. Aku terkesan setelah mengetahui betapa besarnya minat teman-teman untuk membangun masa depan yang lebih cerah. Memang tak semua orang setuju menjalaninya sengan cara yang berbeda. Sementara sebagian kecil siswa, guru, dan orang tua secara aktif menolak pertukaran antarbudaya ini, makin banyak orang yang bergabung untuk melakukan upaya positif. Dua tahun kemudian, aku mencalonkan diri menjadi ketua OSIS. Meskipun sainganku adalah teman sendiri, seorang pahlawan rugby dan satunya “orang besar disekolah” yang popular, sebagian besar dari 3.200 murid bergabung denganku dalam proses melakukan segala sesuatunya secara berbeda. Aku tak akan mengatakan bahwa masalah ras terselesaikan sepenuhnya. Namun, kami berhasil menapak kemajuan besar dalam membangun jembatan diantara berbagai budaya, belajar cara berbicara dan bergaul dengan kelompok etnis yang berbeda, menyelesaikan masalah tanpa menggunakan kekerasan, dan belajar cara membangun kepercayaan dalam keadaan yang paling sulit. Sungguh mengesankan apa yang terjadi kalau orang bersedia saling bicara dengan damai! Diserang oleh geng sekian tahun yang lalu jelas merupakan salah satu masa hidupku yang tersulit. Namun, apa yang kupelajari perihal membalas dengan cinta, bukannya dengan kebencian, merupakan kekuatan besar dalam hidupku. Menyalakan cahayamu di antara orang-orang yang cahayanya redup. Menciptakan perbedaan yang sungguh berarti.

DANI

Posted by: enggar.arini10 in Uncategorized No Comments »

“ Benarkah itu, atau apakah Bapak menaruhnya di papan pengumuman hanya karena kedengarannya bagus? “

“ Apanya yang benar? “ Tanyaku tanpa mengangkat mata dari mejaku.

“ Tulisan ‘Kalau kamu dapat membayangkannya dan meyakininya, kamu pasti akan meraihnya’. ”

Aku menoleh dan memandang wajah Dani, salah satu dari beberapa orang yang aku sukai, tapi jelas bukan salah seorang muridku yang terbaik. “Begini, Dan,” kataku, “orang yang menulis kata-kata itu, Napoleon Hill, menerapkannya setelah bertahun-tahun meneliti kehidupan orang-orang hebat. Ia mendapati bahwa konsep itu, yang dinyatakan dengan berbagai cara, merupakan kesamaan di antara orang-orang hebat itu. Jules Verne mengatakannya dengan cara lain waktu ia berkata, ‘Apa pun yang dikhayalkan seseorang, orang lain pasti akan menciptakannya’.”

“ Maksud Bapak, kalau saya mendapat gagasan dan meyakini gagasan itu, saya pasti dapat mewujudkannya? “ Ia bertanya dengan kesungguhan yang menyita seluruh perhatianku.

“Dani, dari apa yang kulihat dan kubaca, itu bukan teori, tapi suatu kaidah sudah dibuktikan sepanjang sejarah.”

Dani memasukkan tangannya ke dalam saku Levi’s-nya dan berjalan perlahan memutari ruangan. Lalu ia berbalik dan menghadapku dengan semangat baru. “Pak Rahmat,” katanya, “selama hidup saya, saya selalu menjadi murid yang prestasinya di bawah rata-rata, tapi saya tahu saya akan memperbaikinya suatu hari nanti. Bagaimana kalau saya membayangkan diri saya sebagai murid yang baik dan benar-benar meyakininya.. apakah saya pun pasti akan dapat meraihnya?”

“Ya, Dani, tapi camkan ini: Kalau kamu benar-benar yakin, kamu akan bertindak. Bapak yakin ada kekuatan dalam dirimu yang akan melakukan segala sesuatu yang hebat untuk membantumu, kalau kamu memang sudah bertekad.”

“Apa maksud Bapak dengan tekad?” tanyanya.

“Intinya, Dani, Allah memberi kita kayu bakar, tapi kitalah yang harus menyalakan koreknya.”

Suasana jadi hening menegangkan. “Baiklah,” kata Dani, “aku akan melakukannya. Pada akhir semerster ini, aku akan menjadi murid bernilai B.”

Sekarang sedah minggu kelima semester yang sedang berjalan dan dalam kelasku, nilai rata-rata Dani adalah D.

“Gunungnya tinggi, Dani, tapi aku yakin kamu dapat meraih apa yang sudah kamu bayangkan.” Kami berdua tertawa dan ia meninggalkan ruanganku untuk makan siang.

Selama 12 minggu berikutnya, Dani memberiku sebuah pengalaman paling penuh inspirasi yang dapat dialami oleh seorang guru. Ia mengembangkan rasa ingin tahu yang sungguh-sungguh saat mengajukan pertanyaan yang cerdas. Rasa disiplinnya yang baru dapat terlihat dalam penampilannya yang rapi dan caranya berjalan. Perlahan-lahan, nilai rata-ratanya mulai naik, dan ia mendapatkan pujian untuk perbaikan yang ditunjukkannya, dan terlihat bagaimana rasa harga dirinya mulai tumbuh. Untuk pertama kali dalam hidupnya, murid lain mulai meminta bantuannya. Keramahannya yang kharismatik mulai berkembang.

Akhirnya tibalah hari kemenangan itu. Pada suatu Jumat sore, aku sedang duduk memeriksa ujian utama tentang Undang-undang. Aku menatap lurus kertas Dani lama sekali sebelum mengambil bolpoin merah dan mulai memeriksanya. Aku tak pernah harus menggunakan bolpoin itu. Pekerjaannya sempurna. Nilai A+ yang pertama. Aku segera merat-ratakan skornya dengan nilai-nilainya yang lain, dan Dani mendapatkan nilai rata-rata A/B. Ia telah mencapai puncak gunung, dengan sisa waktu 4 minggu lagi. Aku menelpon rekan-rekanku untuk berbagi berita itu.

Pagi Sabtu itu, aku naik mobil ke sekolah untuk acara latihan Ikuti Impian, sebuah drama yang kusutradarai. Aku masuk ke tempat parkir dengan hati ringan, disambut oleh Sasha, aktris terbaik dalam drama dan salah seorang sahabat Dani. Air mata membasahi pipinya. Begitu aku keluar dari mobil, Sasha berlari menghampiriku dan hampir menabrakku dengan tangisnya yang tersedu-sedu. Lalu ia menceritakan apa yang terjadi.

Dani sedang dirumah temannya dan mereka sedang melihat-lihat koleksi pistol “tak berisi” di sebuah ruangan. Dasar anak lelaki, mereka mulai bermain polisi-polisian. Seorang anak mengacungkan pistol “tak berisi” ke kepala Dani dan menarik pelatuknya. Dani jatuh terkulai dengan sebutir peluru bersarang di otaknya.

Hari Senin, seorang murid yang membantuku mengisi nilai-nilai para murid masuk membawa catatan “check-out” untuk Dani. Ada kotak di samping kotak bertuliskan “nilai” tercantum keterangan “tidak perlu”.

“Itu menurut pendapatmu,” kataku pada diri sendiri, seraya menuliskan huruf B merah besar pada kotak itu. Aku membelakangi kelas supaya mereka tak dapat melihat air mataku. Dani telah berusaha keras untuk memperoleh nilai itu dan nilai itu tercantum di situ, tapi Dani sudah pergi. Baju baru yang dibelinya dengan uang hasil mengantarkan Koran masih ada di lemarinya, tapi Dani sudah pergi. Temannya-temannya, pujian-pujian yang diterimanya, hadiah football-nya, masih ada, tapi Dani sudah pergi. Mengapa??

Yang baik tentang rasa duka yang mendalam adalah bahwa perasaan itu membuat orang menjadi sangat rendah hati sehingga tak ada yang menolak suara kekuatan cinta yang belum dilepaskan, yang tak pernah meninggalkan diri kita.

“Bangunlah rumah yang lebih kokoh, oh jiwaku.” Saat kata-kata puisi itu berbicara pada hatiku, aku menyadari bahwa Dani tidak meniggalkan semuanya. Air mata mulai mongering dan senyuman menghampiri wajahku saat aku membayangkan Dani masih mengkhayal, masih yakin, dan masih meraih, dipersenjatai dengan rasa ingin tahu yang baru dibangun, disiplin, rasa memiliki tujuan, dan rasa harga diri.

Ia telah meninggalkan kekayaan besar. Diluar pemakaman, aku mengumpulkan murid drama dan mengumumkan bahwa latihan akan dimulai hari esoknya. Untuk mengenang Dani dan semua yang ditinggalkannya untuk kami, sekali lagi sudah tiba waktunya untuk mengikuti impian itu.

……

Posted by: enggar.arini10 in Uncategorized No Comments »

Tahun 1988, suatu hari saya diantar oleh supir Bank yang agak sepuh. Saya duduk di depan untuk menghormatinya. Dia rikuh dan meminta saya duduk di belakang.

Saya sampaikan bahwa di surga kita tidak ditanya mengenai harta, tapi seberapa baik kita memimpin keluarga.

Dan ternyata … tiga anak putri beliau menerima beasiswa kuliah di Amerika.

Marilah kita menjadi jiwa sederhana yang menghebatkan keluarga.

Mario Teguh